Just another WordPress.com site

Bahan Ajar

SMP/ MTS                  : SMP Negeri 9 Bandung

Mata Pelajaran            : Ilmu Pengetahuan Sosial

Kelas/ Semester           : VII/ 2 (Dua)

Standar Kompetensi   : Memahami perkembangan masyarakat sejak masa Hindu-Buddha sampai masa Kolonial Eropa.

Kompetensi Dasar       : 5.1     Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Hindu-Buddha serta peninggalan-peninggalannya.

Materi Pokok              : c. Peninggalan masa kerajaan Hindu-Buddha

Indikator                     : – Mengidentifikasi peninggalan-peninggalan sejarah kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Indonesia.

–       Menjelaskan karakteristik peninggalan-peninggalan sejarah kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Indonesia.

–       Membedakan peninggalan-peninggalan sejarah kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Indonesia.

Alokasi Waktu            : 2 X 40 Menit (1x Pertemuan)

PENINGGALAN SEJARAH MASA KERAJAAN HINDU-BUDDHA

A.       Pendahuluan

Bukti dari keberadaan suatu kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Indonesia adalah adanya peninggalan-peninggalan dari kerajaan tersebut. Peninggalan tersebut kemudian diidentifikasi agar bisa menjadi fakta sejarah yang layak dijadikan sebagai sumber sejarah. Adapun peninggalan-peninggalan sejarah dari kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Indonesia berupa candi, prasasti, karya sastra, dan budaya.

B.        Peninggalan-Peninggalan Sejarah Dari Kerajaan Bercorak Hindu-Buddha di Indonesia.

Peninggalan-peninggalan sejarah dari kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Indonesia dapat ditinjau dari beberapa aspek. Sebelum datangnya pengaruh Hindu-Buddha, masyarakat Indonesia menetapkan penanggalan waktu berdasarkan pada tanda-tanda alam. Sedangkan ketika pengaruh Hindu-Buddha masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia mulai mengenal penanggalan dengan menggunakan tahun Saka. Pengenalan jenis penanggalan tersebut yang kemudian memudahkan para sejarahwan untuk meneliti peristiwa yang terjadi pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia. Selain itu, dari system kepercayaan pun terjadi perubahan. Masyarakat Indonesia yang pada awalnya menganut kepercayaan animisme dan dinamisme kemudian mengenal ajarah Hindu yang percaya pada dewa-dewa, dan ajaran agama Buddha tentang samsara dan mokhsa.

Dalam segi bentuk yang riil, peninggalan-peninggalan sejarah dari kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia dapat dilihat dari banyak ditemukan candi, karya sastra, patung, seni ukir, dan lain sebagainya.

Ø  Candi

Kata “Candi” bersal dari kata candikagerha yang berarti rumah candika. Sedangkan candika sendiri merupakan nama lain dari dewi Durga atau dewi kematian/maut. Karena itu dalam tradisi Hindu candi dibangun untuk memuliakan orang-orang yang sudah mati dari kalangan keluarga kerajaan dan orang-orang terkemuka. Sedangkan dalam tradisi Buddha, candi digunakan sebagai tempat untuk memuja sang Buddha.

Candi di Indonesia dikelompokan menjadi tiga jenis, yatu sebagai berikut.

1.      Jenis candi yang bercorak Hindu di Jawa Tengah Bagian Utara.

a.       Candi Gunung Wukir di dekat kota Magelang yang berhubungan Prasasti Canggal tahun 732 Masehi.

b.      Candi Badut dekat kota Malang yang berhubungan dengan prasasti Dinoyo tahun 766 Masehi.

c.       Kelompok Candi Gedongsongo tereletak di sekitar lereng Gunung Unggaran.

d.      Kelompok Candi Dieng yang terdiri dari Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Gatotkoco, Candi Semar.

e.       Kelompok Candi Lorojongrang di desa Prambanan.

2.      Jenis Candi yang bercorak Budha di Jawa Tengah bagian Selatan

a.       Candi Borobudur, terletak di Magelang, Jawa Tengah.

b.      Candi Kalasan, terletak di Yogyakarta

c.       Candi Sari, berdekatan dengan candi Kalasan

d.      Candi Mendut, berada di Magelang

e.       Kelompok Candi Pelaosan

f.       Kelompok Candi Sewu di Desa Prambanan.

3.      Jenis candi yang bercorak Hindu-Budha di Jawa Timur, Bali, dan Sumatera.

a.       Kelompok candi Panataran di Blitar.

b.      Candi Kidal di Malang

c.       Candi Singhosari di Kota Malang

d.      Kelompok Candi Muara Takus di Bangkinang

e.       Kelompok candi Gunung Tua di Padang.

f.       Candi Bentar di Pulau Bali.

Ø  Patung

Patung adalah benda yang dibuat dari batu dan dibentuk menyerupai manusia atau binatang. Patung yang disimpan di dalam candi merupakan sebuah perlambangan bersatunya raja dengan dewa.

Patung-patung dewa dalam agama Hindu yang merupakan peninggalan sejarah di Indonesia antara lain:

–          Arca Batu Brahma

–          Arca Perunggu Siwa Mahadewa

–          Arca Batu Wisnu

–          Arca-arca di Prambanan, salah satunya Lorojonggrang

–          Arca Ganesha, dewa berkepala gajah sebagai dewa ilmu pengetahuan

Ø  Karya Sastra

Kesusastraan bercorak Hindu-Buddha dapat dikelompokan ke dalam bagian-bagian berikut ini

1.      Kesusastraan zaman Mataram sekitar abad ke 9 dan 10, seperti

a.       Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa.

b.      Sang Hyang Kamahayanikan.

2.      Kesusastraan zaman Kediri sekitar abad ke 11 dan 12, seperti

a.       Hariwangsa dan Gatotkacasraya karya Mpu Panuluh.

b.      Smaradahana karya Mpu Dhamaja.

c.       Lubdaka dan Wentasancaya karya Mpu Tanakung.

d.      Kresnayana karya Mpu Triguna.

e.       Sumanasantaka karya Mpu Monaguna.

3.      Kesusastraan zaman Majapahit sekitar abad ke 11 dan 14, seperti

a.       Negarakertagama karya Mpu Prapanca.

b.      Sutasoma karya Mpu Tantular

c.       Pararaton

Ø  Bahasa dan Tulisan

Kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Budha di Indonesia telah banyak meninggalkan bukti sejara tentang eksistensi mereka di Negara ini. Salah satu peninggalannya adalah bahasa dan tulisan yang digunakan dalam prasasti maupun karya sastra. Peninggalan dalam bentuk tulisan ini dapat dilihat dari prasasti yang menggunakan huruf pallawa dan berbahasa sansakerta. Bahkan ada beberapa bahasa sansakerta yang kemudian digunakan dalam bahasa Indonesia.

31 Desember 2010

Hari terakhir di 2010. Begitulah menurut orang-orang di setiap status yang mereka buat di jejaring sosial, baik itu facebook maupun twitter. Banyak diantara mereka yang berharap agar hari ini menjadi hari yang indah, mengingat hari ini adalah hari terakhir mereka di tahun 2010. Diantara mereka banyak yang merencanakan berbagai hal yang akan dilakukan di malam harinya, tepatnya menjelang pergantian tahun, 2010 ke 2011. Sebuah transformasi yang diharapkan menjadi momentum peruabahan kearah yang lebih baik.
Sore hari, 14.30. aku bergegas berangkat dari kostan yang terletak di jalan negla, setiabudhi, Kota Bandung menuju sebuah tempat yang damai, Ciparay. Pagi harinya panggilan telpon kuterima yang ternyata dari ayahku. Beliau memintaku untuk segera pulang, karena saudaraku dari Lampung datang berkunjung ke kediaman kami di Ciparay. Sebenarnya aku sudah mempunyai janji dengan Heidy untuk mnghabiskan malam pergantian tahun bersamanya. Tentunya hal itu bisa menjadi momen untuk mempererat hubungan kami yang telah berjalan lebih dari 10 bulan. Namun, ternyata aku harus membatalkan janji tersebut karena aku yakin, jika permintaan ayahku tidak dilaksanakan ia pasti akan kecewa. Untuk itu aku memutuskan untuk pulang ke rumahku di Ciparay.
Malam hari aku memutuskan untuk berkumpul dengan dua orang sahabatku sejak kecil, Heri dan Agung. Kami berkumpul di kediaman Agung yang terletak sekitar 10 menit dari rumahku. Tak ada hal yang istimewa yang kami lakukan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami hanya mengobrol sambil menikmati indahnya malam pergantian tahun. Aku sendiri memutuskan untuk menikmatinya dengan menghisap beberapa batang rokok yang sengaja aku beli di warung kecil yang berdekatan dengan kediaman Agung. Kami bertiga berceloteh ria mengenang masa lalu kami yang begitu penuh dengan kisah suka dan duka. Begitu sederhana, namun sangat mewah mungkin jika dibandingkan dengan saudara kami yang berada di Palestina, Kashmir, dan berbagai tempat lainnya di permukaan bumi yang selalu dilanda dengan konflik. Kami memang beruntung, karena dentuman suara petasan dan kembang api hanya terdengar pada saat-saat malam pergantian tahun. Sedikit mengganggu mungkin bagi mereka yang telah terlelap dan dimanja mimpi. Tapi tidak bagi saudara kami di Palestina, Kashmir, dan daerah konflik lainnya. Mereka setiap hari selalu mendengar dentuman-dentuman suara keras dari berbagai penjuru. Bukan petasan tentunya, tapi suara bom-bom yang dijatuhkan dari pesawat atau sengaja diledakkan oleh mereka yang ingin merdeka, yang seringkali diklaim sebagai jihad.
Sebuah paradoks memang. Tapi mau dikata apalagi, karena inilah kenyataannya. Disaat orang-orang bergembira dengan suara dentuman petasan dan kembang api di malam pergantian tahun, saudara kami di Palestina, Kashmir, dan berbagai daerah konflik lainnya harus berkutat dengan kengerian yang dihasilkan oleh suara ledakan bom. Ternyata memang benar, orang-orang lebih suka menghabiskan uang mereka di setiap malam pergantian tahun dengan membeli berbagai macam petasan dan kembang api, daripada mendermakannya untuk mereka yang kelaparan.
Mudah-mudahan tahun 2011, semua berubah ke arah yang lebih baik.

Mahasiswa, ini aku sekarang

Nama aku Angga Yudistira Permana. Aku biasa dipanggil Angga atau Bolang oleh teman kampusku. Aku dilahirkan pada tanggal 24 Mei 1989 di sebuah desa kecil di kecamatan Ciparay kab. Bandung. Aku merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, mungkin kurang tepat, karena aku sesungguhnya mempunyai dua saudari perempuan. Hanya aku anak dari ibu dan ayahku yang laki-laki, yang lainnya bukan.

Sekarang aku masih berstatus sebagai mahasiswa di salah satu Universitas berlabel negeri di Kota Bandung. Sesungguhnya kampus tempat aku belajar memang benar-benar kampus negeri, setidaknya itu yang dikatakan ibuku dulu ketika aku diarahkan untuk kuliah disana. Walaupun negeri, tapi menurutku dan beberapa temanku yang saat ini menjadi aktivis kampus tidak jauh dengan swasta. Hal ini bisa dilihat dari sistem pembayaran yang cukup mahal jika disandingkan dengan statusnya sebagai Universitas Negeri.

Entah bagaimana awalnya aku bisa tertarik untuk belajar di Jurusan Pendidikan Sejarah. Iya, jurusan untuk orang-orang yang mencintai buku lebih dari wanita, khususnya buku-buku sejarah. Sedangkan aku hanyalah seorang mantan siswa yang ketika masih berseragam putih abu sangat anti terhadap buku-buku seperti itu yang menurutku mempunyai ketebalan yang diatas standar. Menurutku buku-buku itu lebih pantas jika dijadikan sebagai bantal untuk tidur, atau bahkan bisa dijadikan sebagai alat untuk nimpuk orang yang kurang ajar atau sekedar iseng. Buku yang paling pantas untuk dijadikan kawan dalam mindsetku sejak dulu hanya ada satu, komik. Y itulah pandanganku semasa aku masih belum hijrah ke dunia kampus.

Rabu, Agustus 2007

Pagi-pagi benar aku berangkat dari rumah menuju kampus untuk registrasi dan melakukan transformasi, dari calon mahasiswa menjadi mahasiswa. Usahaku tidak sia-sia. Aku diterima di Jurusan Pendidikan Sejarah sebagai salah satu dari seratusan mahasiswa yang diterima di jurusan tersebut. Walaupun tak sehebat perjuangan sperma yang berlomba untuk mencapai sel telur ketika terjadi proses pembuahan, keberhasilanku kali ini bisa dibilang cukup hebat. Karena menurut data dari sumber terpercaya, aku berhasil menyingkirkan sekitar 300an calon mahasiswa yang kalah di SPMB untuk memperebutkan kursi di ruang perkuliahan Jurusan Pendidikan Sejarah. Ya, sedikitnya aku boleh sedikit berbangga hati, karena aku sama sekali tidak menggunakan cara-cara kotor yang digunakan oleh calon anggota dewan ketika berebut kursi.

Di hari Rabu tersebut, aku mengalami sesuatu hal yang luar biasa, yang berdampak pada pertumbuhan jiwaku sampai saat ini, saat aku menjadi senior tingkat satu. Begitu kata temanku.

“Angga?……”

seseorang menyapaku dengan nada sedikit bertanya

“Eh ada neng Tya. Kuliah disini juga? Masuk jurusan apa?”

“Iya bener ternyata angga. Iya ngga, aku kuliah disini, masuk jurusan pendidikan sejarah”

Ternyata teman yang tadi menyapaku merupakan teman lamaku ketika duduk di bangku SMP. Tya namanya.

“Itu temen kamu kuliah disini juga?” seraya menunjuk kearah seorang gadis berjilbab putih yang berada di sebelahnya.

“Iya, satu jurusan ko.”

“Wah ternyata sama dong, aku juga di jurusan Pendidikan Sejarah” Ucapku dengan sedikit girang

“Kebetulan sekali ya……” Sambungnya

“……..Eh iya ngga, aku pergi dulu y. Masih banyak urusan, mangga assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam” Jawabku sambil sedikit memperhatikan gadis yang berjalan bersamanya.

Oh iya, nama gadis itu endah. Dia tidak suka bicara menurutku. Karena dia hanya diam saja. Bahkan ketika aku sedikit tersenyum pun, bibirnya seperti berat untuk membalas senyumanku yang ku buat semanis mungkin. Tetapi walau demikian, bagiku dia wanita yang sangat manis. Menurutku dia itu seperti satu berlian yang sangat kecil diantara tumpukan batu cadas. Manis dan cantik, itu ucapan yang keluar dari bibirku ketika aku pertama kali melihatnya. Satu jurusan dengannya merupakan satu anugerah yang luar biasa bagiku, sekaligus suatu kutukan. Kenapa? Nanti lain kali aku ceritakan. Sekarang aku mau tidur. Semoga tak ada yang penasaran.

 

 

 

VIVAnews – Dia dipanggil dengan nama lazim di Korea: Kim. Dia perempuan, dan usianya 41 tahun. Dengan dua putranya, Kim berhasil menembus perbatasan dua Korea, dan masuk ke Korea Selatan, 11 November 2010. Penguasa Korea Selatan (Korsel) menutup identitas Kim. Soalnya, nyawa Kim dan dua putranya terancam. Mereka lari dari Korea Utara (Korut). Demi keselamatan kerabat mereka di kampung halaman, seperti dilaporkan VoA News, nama lengkap Kim tak boleh dibuka. Bagi rezim komunis di Korut, ulah Kim kabur bersama dua putranya itu adalah dosa besar. Aksi itu setara pengkhianatan kepada negara. Kalau tertangkap, hukumannya berat. Mereka akan menghuni kamp kerja paksa. Kim kini menjadi satu dari 20.000 pembelot Korut, sejak semenanjung Korea itu terpecah setelah Perang Dunia Kedua. Menurut pejabat Kementrian Unifikasi Korsel, Kim terpaksa kabur dari negaranya. Kampung mereka di Provinsi Yanggang tak lagi bisa menjadi tumpuan hidup. Dalam tiga tahun terakhir, lebih dari 10.000 orang Korut kabur ke Korsel. Korut kini dilanda krisis pangan. Ekonomi sulit. Keadaan Korut, seperti digambarkan Victorio Sekitoleko, seorang pejabat Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), tak begitu baik. Victorio melawat Korut, September lalu. Dia mengunjungi rumah dan sekolah. “Saya melihat orang-orang di jalan. Setiap menatap mata mereka, yang kita saksikan adalah orang kelaparan,” tutur Sekitoleko. Dia lalu mencatat, lebih dari 30 persen orang Korut mengalami kekurangan pangan cukup parah. Mereka akhirnya nekad, menerobos perbatasan, meski harus bertaruh nyawa. Serangan ke selatan Krisis itu tak hanya membuat warga Korut frustasi. Bahkan, penguasa Kim Jong-il berupaya menarik perhatian internasional atas krisis di negeri mereka. Pyongyang pun kadang bertindak nekad. Korsel dijadikan sasaran tembak. Itu sebabnya Korut kembali disorot dunia atas serangan artileri ke Pulau Yeonpyeong, Korsel, 23 November 2010. Sedikitnya empat orang di Korsel, dua diantaranya warga sipil, tewas akibat serangan itu. Dua hari kemudian, Menteri Pertahanan Korsel, Kim Tae-young, mundur dari jabatannya setelah dianggap tak mampu mengantisipasi, dan memberi tindakan cepat serangan Korut. Sebagai negara Stalinis terakhir di dunia, Korut kerap dituding oleh negara Barat sebagai biang keladi konflik di Semenanjung Korea. Banyak pihak was-was bila krisis dibiarkan maka bisa menjadi pemantik terjadinya perang skala besar. Kendati bersiaga penuh, Korsel dan sekutunya, Amerika Serikat (AS), menahan diri tak langsung membalas berupa serangan frontal. Tak mau gegabah, mereka sadar lawan yang dihadapi adalah negara nekad. Korut dianggap tak punya apa-apa lagi, selain harga diri dan senjata. Kantor berita Associated Press, mengatakan kalangan intelijen AS yakin Korut punya delapan sampai dua belas bom nuklir yang siap dipindahkan ke rudal. Kecaman atas serangan ke Korsel itu pun dikritik China, sekutu terdekat Korut. Meskipun reaksi Beijing tak sampai mengecam dan marah seperti halnya Amerika Serikat (AS), Korsel, Jepang dan sekutu-sekutu Barat lainnya. Saling tuding Kedua Korea saling tuduh mengenai siapa penyulut gejolak kali ini. Korsel, seperti dikutip kantor berita Yonhap, menuding Korut sebagai pihak pertama pemantik konflik. Sebaliknya, kantor berita Korut KCNA, menyebutkan Korsel pertama kali melontarkan tembakan. Pada saat itu Korsel sedang latihan militer di perairan dekat Yeonpyeong. Sebagian perairan di Laut Kuning itu masih dipersengketakan kedua negara. Dalam siaran televisi pemerintah Korut, rezim di Pyongyang menyalahkan Korsel–yang mereka anggap sebagai pemerintahan boneka AS dan sekutu-sekutunya. “Angkatan bersenjata terpaksa mengambil tindakan militer atas provokasi militer oleh rezim boneka,” demikian siaran televisi Korut seperti yang dikutip harian Korsel, Chosun Ilbo, dua hari setelah serangan berlangsung. Bahkan Korut berani mengancam akan kembali melakukan serangan. “Bila kelompok boneka itu berani masuk ke wilayah kami, bahkan 0,001 mm pun, angkatan bersenjata revolusioner akan tidak ragu-ragu mengambil tindakan militer balasan yang tidak mengenal ampun,” lanjut siaran itu lagi. Masalahnya, bukan kali itu saja Korut bikin ulah. Sejumlah insiden berlangsung sejak Perang Korea 1950-1953. Pada Maret lalu, torpedo kapal selam Korut merontokkan satu kapal patroli Korsel. Sekitar 46 pelaut tewas. Sebelumnya, pada 1987, sekitar 104 penumpang dan 11 awak pesawat Korean Air tewas akibat ledakan bom di dalam pesawat yang dilakukan agen-agen intelijen Korut. Pada dekade 1970an, Korut pun berulah dengan menculik sejumlah warga Jepang dan Korsel. Mereka pun gemar berkonfrontasi dengan negara-negara Barat di forum diplomasi, terutama soal senjata nuklir. Itulah sebabnya, berkali-kali Korut mendapat sanksi ekonomi, dan perdagangan dari Dewan Keamanan PBB dalam beberapa tahun terakhir. Seperti agama Mantan Presiden AS, Jimmy Carter, mengakui tak mudah menghadapi Korut. Terlepas dari kemampuan militernya yang cukup tangguh, apalagi memiliki teknologi senjata nuklir, Korut sulit diajak kompromi dan cenderung mudah tersinggung. “Berurusan dengan Korut telah lama menjadi tantangan bagi AS,” tulis Carter dalam opininya di harian Washington Post, 24 November 2010. Presiden AS ke-39 itu menilai ada semacam karakter khusus yang membentuk rezim dan masyarakat di Korut. Mereka tak mudah tunduk kepada pengaruh asing. Carter menyebut karakter itu sama seperti agama. “Agama resmi di masyarakat yang tertutup itu adalah ‘juche’. Artinya bertumpu pada diri sendiri dan jangan mau didominasi pihak lain,” kata Carter. Dengan kata lain, demi mendapatkan sesuatu, mereka memilih berjibaku ketimbang tunduk pada perintah orang lain, apalagi dengan pihak yang dianggap musuh. Karakter itulah yang selalu ditekankan pemimpin Korut sejak akhir Perang Korea. Terutama oleh Kim Il-sung hingga ke putranya yang menjadi penguasa saat ini, Kim Jong-il. Sikap itu tampaknya akan diwariskan kepada putranya, Kim Jong-un, calon pemimpin generasi ketiga. Korut tidak pernah gamblang menjelaskan alasan atas serangan dan sabotase yang mereka lakukan selama ini. Namun, kalangan pengamat menduga serangan ke Pulau Yeonpyeong dan kasus-kasus insidentil terkait meredupnya harga diri atau gengsi Korut di panggung dunia. Kelaparan Kekuatan militer Korut memang dipandang tangguh. Riset Library of Congress maupun badan intelijen CIA memasukkan Korut ke dalam kelompok 20 negara militer terkuat di dunia. Korut pun dianggap masuk “kelompok macho,” yaitu negara-negara yang punya teknologi senjata nuklir. Tapi, selain itu, tak ada lagi yang bisa diandalkan Korut. Negara itu tertinggal jauh dari tetangga sekaligus seterunya, Korsel. Korut tidaklah semakmur 40 atau 50 tahun lalu. Saat itu, ekonomi mereka jauh lebih baik dari Korsel, yang merangkak dari nol setelah porak poranda akibat Perang Korea. Tapi situasi kini berbalik. Korsel kini masuk dalam kelompok negara elit, diantaranya sebagai anggota Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan dan G20. Sementara, Korut tampak kian melarat. Saat tetangga mereka larut dalam hiruk pikuk sebagai tuan rumah sejumlah peristiwa penting dunia–seperti Olimpiade 1988, Piala Dunia 2002, hingga KTT G-20 November lalu, rakyat Korut dilanda kesulitan pangan sejak dekade 1990an. Mayoritas rakyat Korut terancam kelaparan yang berkelanjutan pada tahun mendatang. Akibat cuaca buruk, jadwal panen akan terganggu, demikian laporan gabungan dari dua lembaga PBB, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan Program Pangan Dunia (WFP), pada 16 November 2010. Laporan itu merujuk pada kunjungan tim gabungan itu ke Korut, atas undangan pemerintah setempat selama 21 September hingga 2 Oktober 2010. Mereka bertugas meninjau hasil panen tahun ini sekaligus membuat proyeksi tahun depan, serta menaksir seberapa bantuan pangan yang dibutuhkan rakyat Korut. Hasilnya sangat memprihatinkan. Selain hasil panen terganggu, sekitar lima juta jiwa–atau kurang lebih 20 persen dari total populasi Korut, membutuhkan bantuan pangan. Mereka sebagian besar adalah anak-anak, ibu hamil maupun menyusui serta kaum jompo yang tak punya bantuan dari kerabat. Menurut laporan FAO dan WFP, rakyat Korut dalam beberapa dekade terakhir sering menderita kekurangan pangan. Situasi terjadi saat wilayah mereka dilanda cuaca buruk sehingga merusak tanaman di ladang pertanian kolektif. Itu adalah cara utama bagi rakyat di pedesaan mendapatkan makanan. Bila panen, hasil pertanian kolektif itu lebih banyak dikirim ke kota sebagai pajak negara. Situasi itu berkembang sangat buruk pada pertengahan 1990-an. Menurut laman harian The Guardian, saat itu banyak warga Korut tewas. Jumlahnya bervariasi antara 600.000 hingga lebih dari dua juta jiwa. Sejak saat itu, negeri ini sangat tergantung pada bantuan pangan, terutama dari tetangga sekaligus “musuhnya,” Korsel. FAO dan WFP mengingatkan, kendati sudah ada kiriman paket beras dan mi instan dari Korsel September lalu, bantuan itu masih sangat kurang. Bantuan tak sampai 4 persen dari kebutuhan. Pemerintah Korsel prihatin atas masalah tetangganya di utara. “Krisis pangan Korut merupakan ‘bencana kelaparan yang bergerak lambat,’ yaitu menimbulkan dampak dalam waktu lama. Sepertinya, kelaparan telah menimbulkan kerugian bagi seluruh sendi kehidupan populasi Korut,” demikian pernyataan lembaga informasi statistik Korsel, Statistics Korea. Pembelot Saat pemerintah komunis itu bersikeras tetap memusuhi Korsel, banyak warga Korut justru hijrah diam-diam ke Selatan. Tujuannya bukan soal menikmati kebebasan, tapi ini urusan perut agar lolos dari bencana kelaparan, dan kemiskinan di Korut. Menurut harian JoongAng Ilbo, saat ini Korsel menampung lebih dari 20.000 pembelot dari Korut. Kondisi mereka menyedihkan. Banyak para pembelot kehabisan uang karena dipakai membayar calo penawar jasa untuk membelot. Kalaupun ada, mereka terpaksa membongkar celengan, agar si calo bersedia menjemput sanak saudara mereka dari Korut. Tentu menggunakan cara ilegal. Soalnya, pemerintah Korut tak sekalipun mengizinkan warganya menyeberang ke Korsel. Akibat ketatnya penjagaan perbatasaan Korsel-Korut, warga yang mau kabur dari Korut harus menyeberang dulu ke China, negara yang berbatasan dengan utara Korut. Itu adalah jalan berbahaya, tapi pilihan lain tak ada. Menurut radio VOA News, kaum perempuan dan anak-anak banyak diselundupkan ke China. Tanpa bekal cukup, dan berstatus pendatang gelap, mereka akhirnya menjadi pekerja seks, kawin paksa, atau menjadi buruh rendahan. Itulah membuat perdagangan manusia dari Korut ke China, menurut data Departemen Luar Negeri AS, termasuk tertinggi di dunia. Pemerintah China menganggap para penyelundup itu sebagai “migran ekonomi,” atau mereka yang terpaksa menyusup karena kesulitan ekonomi. Bila tertangkap, mereka dipulangkan paksa ke Korut, dan terancam menerima hukuman berat dari penguasa. Kalangan pengamat mengaitkan kesulitan pangan Korut itu dengan serangan di Yeonpyeong. Serangan itu bisa diartikan sebagai pesan, bahwa Korut sedang krisis, tapi tak harus sampai mengemis-ngemis. Apalagi, AS masih menolak mencabut embargo ekonomi dan perdagangan atas Korut. “Tidak bisa menekan Washington, akhirnya mereka berbuat ulah lagi kepada Seoul,” kata Choi Jin-wook, peneliti dari South Korean Institute for National Unification, seperti yang dikutip The New York Times. “Mereka berada dalam situasi yang putus asa dan mereka butuh bantuan pangan secepatnya, bukan tahun depan,” kata Choi.

Berita Terkait: http://sorot.vivanews.com/news/read/190858-konflik-korea–kisah-dari-utara

Jalan-Jalan Malam

Oleh Angga Yudistira Permana

Malam itu malam selasa. Malam selasa adalah malam yang biasa. Malam yang seperti malam senin, malam rabu, malam kamis, malam jum’at, malam sabtu, dan malam minggu. Saya mandi dan gosok gigi. Setelah itu saya melakukan kebiasaan saya, yaitu pake baju dan celana. Tak lupa saya pake celana dalam, celana yang dipake didalam celana. Setelah saya lengkap memakai pakaian yang biasa manusia pakai, saya langsung ngajak Andri untuk jalan-jalan.

“Ndri ulin yuk!” maksudnya ngajak andri main.

“Ulin kamana?” maksudnya bertanya balik

“Ka ITB”

“Rek naon ka ITB?” maksudnya nanya ITB

“Rek ninggali patung”

Akhirnya dengan perdebatan yang sangat singkat Andri berhasil takluk dan tidak bertanya lagi.

Karena Andri mau diajak ke ITB, akhirnya saya mengeluarkan motor dari ruangan tengah. Ruang tengah yang sering dijadikan tempat menyimpan motor. Saya keluarkan motor saya. Merah motor itu warnanya. Saya tidak akan membahas alasan kenapa warna motor saya itu merah. Itu hak saya mau motor saya warna merah. Uang-uang saya. Setelah motor berhasil keluar dari ruang tengah, saya biarkan Andri bikin maju itu motor. Motor pun maju, ga mundur, sesuai dengan moto yang dipake motor saya, “maju terus pantang mundur”. Andri pun duduk di depan, saya duduk dibelakang andri. Saya enggak mau duduk di depan. Karena saya orang yang suka melihat kebelakang. Motor pun dibiarkan maju oleh andri.

 

Ditulis pada tanggal 29 Agustus 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Tag Cloud