Just another WordPress.com site

31 Desember 2010

Hari terakhir di 2010. Begitulah menurut orang-orang di setiap status yang mereka buat di jejaring sosial, baik itu facebook maupun twitter. Banyak diantara mereka yang berharap agar hari ini menjadi hari yang indah, mengingat hari ini adalah hari terakhir mereka di tahun 2010. Diantara mereka banyak yang merencanakan berbagai hal yang akan dilakukan di malam harinya, tepatnya menjelang pergantian tahun, 2010 ke 2011. Sebuah transformasi yang diharapkan menjadi momentum peruabahan kearah yang lebih baik.
Sore hari, 14.30. aku bergegas berangkat dari kostan yang terletak di jalan negla, setiabudhi, Kota Bandung menuju sebuah tempat yang damai, Ciparay. Pagi harinya panggilan telpon kuterima yang ternyata dari ayahku. Beliau memintaku untuk segera pulang, karena saudaraku dari Lampung datang berkunjung ke kediaman kami di Ciparay. Sebenarnya aku sudah mempunyai janji dengan Heidy untuk mnghabiskan malam pergantian tahun bersamanya. Tentunya hal itu bisa menjadi momen untuk mempererat hubungan kami yang telah berjalan lebih dari 10 bulan. Namun, ternyata aku harus membatalkan janji tersebut karena aku yakin, jika permintaan ayahku tidak dilaksanakan ia pasti akan kecewa. Untuk itu aku memutuskan untuk pulang ke rumahku di Ciparay.
Malam hari aku memutuskan untuk berkumpul dengan dua orang sahabatku sejak kecil, Heri dan Agung. Kami berkumpul di kediaman Agung yang terletak sekitar 10 menit dari rumahku. Tak ada hal yang istimewa yang kami lakukan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami hanya mengobrol sambil menikmati indahnya malam pergantian tahun. Aku sendiri memutuskan untuk menikmatinya dengan menghisap beberapa batang rokok yang sengaja aku beli di warung kecil yang berdekatan dengan kediaman Agung. Kami bertiga berceloteh ria mengenang masa lalu kami yang begitu penuh dengan kisah suka dan duka. Begitu sederhana, namun sangat mewah mungkin jika dibandingkan dengan saudara kami yang berada di Palestina, Kashmir, dan berbagai tempat lainnya di permukaan bumi yang selalu dilanda dengan konflik. Kami memang beruntung, karena dentuman suara petasan dan kembang api hanya terdengar pada saat-saat malam pergantian tahun. Sedikit mengganggu mungkin bagi mereka yang telah terlelap dan dimanja mimpi. Tapi tidak bagi saudara kami di Palestina, Kashmir, dan daerah konflik lainnya. Mereka setiap hari selalu mendengar dentuman-dentuman suara keras dari berbagai penjuru. Bukan petasan tentunya, tapi suara bom-bom yang dijatuhkan dari pesawat atau sengaja diledakkan oleh mereka yang ingin merdeka, yang seringkali diklaim sebagai jihad.
Sebuah paradoks memang. Tapi mau dikata apalagi, karena inilah kenyataannya. Disaat orang-orang bergembira dengan suara dentuman petasan dan kembang api di malam pergantian tahun, saudara kami di Palestina, Kashmir, dan berbagai daerah konflik lainnya harus berkutat dengan kengerian yang dihasilkan oleh suara ledakan bom. Ternyata memang benar, orang-orang lebih suka menghabiskan uang mereka di setiap malam pergantian tahun dengan membeli berbagai macam petasan dan kembang api, daripada mendermakannya untuk mereka yang kelaparan.
Mudah-mudahan tahun 2011, semua berubah ke arah yang lebih baik.

Comments on: "31 Desember 2010" (2)

  1. kadang jika terlalu banyak membandingkan kesedihan kita dan orang laen kita suka lupa ama kebahagiaan yang sebenernya kita dapetin
    ayo nikmatin ajah hidupnya
    heheh
    nu di luar mah biarin ajah
    hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: